Kisah Aneh Banwoldang – Volume 1
<Chapter 7>
Kisah kedua
<Bungkusan Jiwa>
Dahulu, di sebuah daerah, ada seorang kaya raya bernama Tuan Yun yang memiliki harta setara sepuluh ribu gabah. Suatu hari, putra satu-satunya yang sangat berharga baginya tiba-tiba pingsan dan tubuhnya mengeras kaku. Ketika ditanya kepada tabib sakti, tabib itu bilang “Ada yomul (hantu pengganggu) yang mencuri jiwa anak itu, jadi sebelum malam ini berlalu, dia harus meminum rebusan banhoncho, barulah dia bisa sadar kembali.”
Tuan Yun pun panik dan berlari keluar sampai sepatu pun tidak sempat dipakai. Ia yakin benar tadi melihat banhoncho (rumput pemanggil jiwa) tumbuh berumpun di tepi anak sungai, tapi entah kenapa ia sama sekali tidak bisa menemukannya. Ia mencari dan terus mencari, hingga cahaya bulan perlahan memudar.
Saat itu, ia melihat seorang perempuan duduk di dekat air sambil memeluk buntalan yang menggembung. “Di sekitar sini, apa Anda melihat banhoncho?” tanya Tuan Yun. Perempuan itu menunduk, lalu tanpa berkata apa-apa menunjuk ke seberang tanggul.
Tuan Yun senang dan langsung melompati tanggul. Namun di depan matanya hanya ada air hitam yang mengalir. Barulah ia sadar. Tadi itu yomul. Dan yang dipeluk perempuan itu… adalah buntalan jiwa putranya.
Ia buru-buru kembali ke tempat semula, tapi perempuan itu sudah hilang. Sebagai gantinya, di tempat perempuan itu tadi duduk, hanya tersisa jejak rumput banhoncho yang berkilau kehijauan di antara cahaya fajar.
『Kisah lembah plum』
●◉◎◈◎◉●
Di belakangnya, semburan bening air pecah berhamburan.
Yu Dan sedang duduk di tepi air mancur taman.
Bukan sendirian, ia bersama seseorang.
Di sebelahnya duduk seorang perempuan berambut panjang terurai, memakai sweater dan rok yang rapi, dengan tas di pangkuannya. Penampilannya seperti mahasiswi biasa.
Tapi semua itu cuma topeng. Topeng yang mati-matian menyembunyikan bahwa dirinya “berbeda” dari orang lain.
Mia memang begitu sejak dulu. Ia ingin punya teman yang normal, ingin hidup normal. Namun sayangnya, dari dirinya selalu keluar aura suram yang sulit dijelaskan. Seakan hanya dia sendiri yang terus-menerus disorot lampu biru.
Bahkan Yu Dan pun sering merasa merinding saat tanpa sengaja menoleh lalu mendapati Mia berdiri di belakangnya dengan wajah datar.
Kadang ada juga gadis-gadis yang entah kebanyakan waktu atau terlalu iba, yang mau berteman dengannya. Tapi semuanya sama, setelah mengalami kejadian supranatural, mereka cepat-cepat menjauh.
Perempuan yang sudah hidup dua puluh dua tahun tapi tak punya teman—Na mia—membuka mulut dari balik gelas.
“Ulangi.”
Yu Dan mengernyit.
“Ulang apanya! Aku sudah mengulang tiga kali! Yang barusan itu sudah semuanya!”
“Tapi aneh. ”
“Apa yang aneh? Kesialan itu bicara denganku. Jadi aku juga ajak ‘bicara’ baik-baik dan aku kembalikan dia ke tempatnya.”
“Bukan itu. Bagian yang bilang mereka semua suka banget sama kamu sampai berpesan berkali-kali supaya kamu datang lagi.”
Yu Dan tidak bisa tidak tersedak. Jeli juga. Dasar perempuan suram.
“Di sana para siluman itu sangat berhati-hati. Mana mungkin mereka senang kalau manusia datang seenaknya lalu bikin kacau. Aku saja harus nyogok pakai kue, cemilan, es krim… pokoknya sampai mengguras rekening baru bisa ‘membujuk’ mereka.”
“Aku kan ada gunanya.” Yu Dan menyela.
“Aku bisa melihat lebih daripada orang lain—bahkan daripada kamu juga. Dunia makin kotor, kan? Mungkin itu sebabnya hal-hal yang seharusnya tidak terjadi semakin sering terjadi. Begitupun Unusuals. Mereka harus dikembalikan ke tempatnya….”
Sambil berucap asal meniru omongan siluman yang ia dengar, matanya memandangi taman.
Karena hari ini hari Sabtu, tempat itu ramai. Orang-orang menikmati pohon yang baru bertunas. Orang-orang tertawa cekikikan sambil belajar naik sepeda. Anak-anak yang tidak bisa diam sedetik pun. Semua terlihat bahagia.
“Ah, dunia ini mending hancur aja.”
“Wah.” Mia menatapnya dengan mata membesar.
“Kukira apaan. Yah kamu memang begitu. Aku sampai sempat kaget, kupikir kamu mendadak jadi orang baik.”
“Gila. Emangnya aku punya waktu buat tiba-tiba jadi baik? Buat main aja aku sibuk.”
“Oh ya? Wah gawat. Gimana dong.” Mia menatap Yu Dan kasihan.
“Kenapa lagi? Apa yang gawat?”
“Coba pikir. Kamu bukan cuma selamat setelah ketemu Unusuals, tapi kamu juga mengingatnya dengan jelas. Kamu tahu artinya apa? Di mata orang-orang yang ‘diganggu’, kamu bakal terlihat seperti penyelamat. Kamu juga tahu sendiri, Unusuals itu bisa membuat orang jadi putus asa. Mereka bakal nempel ke kamu, minta tolong mati-matian. Kalau kamu tidak menolong, mereka bisa marah, bahkan mengutuk. Salah-salah kamu bisa terseret kayak mulgwisin (Hantu air) yang menarik orang masuk ke dalam kemalangan mereka.”
Bulu kuduknya meremang. Tapi Yu Dan berusaha pura-pura santai.
“Mana mungkin aku bakal terseret begitu saja? Aku bisa mengurus sendiri. Tenang saja.”
“Oke. Semangat. Pokoknya kamu selamat, itu sudah cukup.”
“Mau pulang sekarang?”
“Kenapa? Ada yang mau kamu tanyakan?”
“Ada. Cheonho itu apa?”
“Ooh.” Mia yang hendak berdiri, tersenyum.
“Rubah yang lahir menerima energi langit. Beda dari makhluk biasa. Dulu dia adalah makhluk suci yang disembah dan dianggap keramat. Katanya dulu para raja pun datang minta nasihat. Bulunya berkilau emas, kesaktiannya hebat, sifatnya baik dan penuh belas kasihan.”
“Bohong! Penipuan!”
“Di buku tertulis begitu.”
Saat itu ponsel Mia bergetar keras. Sepertinya tempat kerja paruh waktu “mencurigakan” itu memanggilnya lagi. Mia menerima telepon tanpa pamit dan buru-buru lari pergi.
“Apaan sih. Katanya jangan cuma mengurung diri di rumah, seharusnya ajak aku jalan-jalan bareng.”
Padahal bukannya dia yang memanggil dengan janji traktir makan siang, lho? Jangankan makan siang, yang ada dia cuma bicara hal-hal seram. Yu Dan mendumel sambil menghabiskan cola yang tersisa.
Saat duduk sendirian, tiba-tiba ia teringat perkataan Rubah.
Dunia ini labirin yang sangat berbahaya. Begitu berbelok tikungan berikutnya, kamu tidak tahu apa yang akan muncul.
Tapi mengingat sambil duduk di taman yang cerah begini, kalimat itu rasanya seperti kebohongan.
Semua orang terlihat menikmati hidup tanpa beban. Di tengah itu, matanya menangkap sepasang suami istri yang membawa anak laki-laki yang kelihatan baru enam atau tujuh tahun. Melihat mereka tampak bahagia, entah kenapa saraf Yu Dan menegang.
Memang, akhir pekan itu menyebalkan. Pulang saja deh.
Ia meraih syalnya lalu melilitkannya kembali rapat-rapat, kemudian berdiri.
Saat sampai di penyeberangan, lampu berubah merah. Ia malas menunggu, jadi ia berbelok ke arah jembatan penyeberangan. Baru saja ia naik sampai ujung tangga panjang itu—
Pandangan matanya goyah. Dengung aneh memukul gendang telinga.
Apa ini?
Yu Dan menutup mata kanan dengan satu tangan.
Di antara orang-orang yang lalu-lalang di jembatan, ada seorang siswi yang menarik perhatiannya.
Ujung roknya berkibar kasar diterpa angin. Seragamnya seragam sekolah putri di dekat daerah itu. Rambutnya berantakan dan dia seperti tak peduli untuk merapikannya, dia hanya menatap kosong ke bawah—ke jalan yang jauh di bawah sana, tempat mobil melaju. Sikapnya seperti orang yang sebentar lagi akan melompat jatuh.
Kenapa dia begitu?
Saat siswi itu mengangkat kepala. Tatapannya gelap, lalu begitu melihat Yu Dan, dia tersentak.
“Kamu….”
Mata yang tadinya kosong memantulkan kilau aneh. Bibirnya yang pucat seperti orang sakit bergerak pelan. Namun suara deru mobil menelan kata-katanya.
Yu Dan bertanya balik.
“Apa?”
“Aku takut….”
Siswi itu berkata lagi. Suaranya lirih.
“Aku takut. Aku tidak berani masuk rumah. Sebenarnya... kenapa?”
“Apa? Apa yang kenapa?”
“Kamu tahu, bukan. Kamu bisa menolongku. ”
Matanya bersinar penuh harap.
Ah... Begitu ya. Dia ‘diganggu’ Unusuals?
Saat itu peringatan Mia melintas.
—kamu bisa terseret kayak mulgwisin (Hantu air) yang menarik orang masuk ke dalam kemalangan mereka
Melihat siswi ini, Yu Dan merasa tidak enak. Ada sesuatu yang ganjil. Ia ragu, jadi berbalik pergi.
“Kejam! Masa kamu tidak mau mendengarkan ceritaku dulu?”
Siswi itu berteriak. Kaki Yu Dan langsung berhenti.
—Masa mengusir tanpa dengar ceritanya dulu?
Bukankah dia sendiri pernah bicara semacam itu, saat hampir diusir oleh Tuan Do? Perasaan putus asa yang sama.
Yu Dan menoleh.
“Tapi aku sungguh tidak tahu apa-apa.”
Saat itu tubuh siswi itu goyah, Yu Dan kaget dan reflek mengulurkan tangan, mengira dia akan jatuh ke bawah jembatan. Untungnya tidak. Siswi itu berhasil mencengkeram pagar pembatas, menatap Yu Dan. Dia bahkan seperti tidak sadar barusan hampir jatuh. Isi kepalanya cuma ada satu hal.
“Tolong. Adikku hanya tinggal ‘cangkang’. Gara-gara aku….”
Wajahnya yang sudah putus asa terlihat lebih putus asa lagi.
Astaga…
Yu Dan kemudian mengikuti siswi itu.
Tidak mungkin menolong semua orang. Jadi dia harus menilainya lebih dulu.
Selain rambutnya yang berantakan, punggung siswi itu terlihat tegak. Tadi Yu Dan terlalu panik sampai tidak sadar, tapi wajahnya pun tegas. Wajah bersih dengan kacamata bingkai hitam—seperti tipe perempuan yang tidak akan mengajak bicara senior dengan wajah galak seperti Yu Dan. Anak seperti itu sampai memohon agar Yu Dan ikut pulang ke rumahnya. Dan apa tadi? Adiknya hanya tinggal cangkang?
“Apa maksudnya cangkang? Tolong jelaskan.”
“Aku juga tidak tahu.”
Masuk ke kompleks apartemen, siswi itu bercerita. “Adikku baru lima tahun. Nakal, kadang membuat repot. Tapi aku tidak pernah membencinya….”
Perempuan tu bilang orang tua mereka pergi ke konferensi akademik. Saat dia pulang dari les, bahkan belum sempat ganti baju, lalu mengerjakan PR—adiknya terus merengek minta diajak ke taman bermain. Karena itu sangat mengganggu, dia sampai kepikiran: kalau setiap hari seperti ini, sampai orang tua pulang, bagaimana dia bisa bertahan….
“Aku cuma memikirnya di hati. Kalau saja bisa menyala-matikan dia seperti robot, pasti melegakan. Aku cuma—cuma memikirkan saja, tapi….”
Sebelum membuka pintu, siswi itu sempat ragu sejenak.
Yu Dan merasa tahu apa yang dia pikirkan.
'Tolong… biar semua ini tidak pernah terjadi. Walau dibilang gila, walau dibilang pembohong, asal semuanya kembali seperti semula….'
Itulah yang diinginkan siswi itu.
Namun begitu pintu dibuka, udara berat seperti menekan dari atas.
Harapannya tidak terkabul.
Yu Dan menatap anak kecil di meja makan.
Rambutnya keriting, wajahnya seperti anak pada umumnya. Dia duduk tegak dengan punggung lurus, tanpa ekspresi. Rasanya seperti boneka lilin. Saat Yu Dan mendekat, ia melihat plester kuning di lutut anak itu. Pasti kakaknya yang menempelkannya.
“Dia terlalu diam, jadi aku keluar sebentar… dan dia sudah begini.”
Siswi itu ambruk berlutut di depan adiknya.
“Bangun. Tolong bangun. Aku bakal ajak kamu ke taman. Tiap hari juga aku ajak. Jadi tolong buka mata. Ya?”
Dia memohon seputus asa itu, tapi anak kecil itu tidak bergerak sedikit pun. Bahkan tidak berkedip. Menyeramkan. Kata itu terlintas untuk menggambarkan.
“Gimana ini... Napasnya lebih lemah dari kemarin. Orang tua sebentar lagi pulang. Aku harus gimana?”
Siswi itu bergumam entah kepada siapa.
“Ini salahku. Aku tidak boleh berpikir jahat seperti itu. Tapi aku tidak serius. Mana mungkin aku serius berpikir begitu….”
Yu Dan mengulurkan tangan dan menyentuh wajah anak itu. Rasanya seperti menyentuh kulit telur. Ia paham kenapa siswi itu menyebut ‘cangkang’.
Yu Dan menoleh mengamati sekeliling.
Ruangannya sendiri terlihat normal. Apartemen biasa, piring dan mainan berserakan. Namun, ia melihat jendela kecil di dapur terbuka.
“Kamu yang buka jendela itu?”
Siswi itu mengangkat kepala. Mengikuti arah pandang Yu Dan, lalu menggeleng lemah.
“Bukan.”
Yu Dan mendekat, menutup mata kanan, dan memperhatikan lebih teliti.
Di sekitar jendela terlihat jejak gelap seperti noda—atau lebih tepatnya, bekas pijakan. Begitu melihat bekas hitam itu, entah kenapa perasaannya langsung sangat buruk.
“Ada yang masuk. Dia membuat adikmu seperti ini, lalu pergi.”
“Siapa?”
“Mana aku tahu.”
Siswi itu kembali menunduk. Dia menahan diri supaya tidak menangis, taapi akhirnya butiran bulat jatuh menetes ke atas rok seragamnya.
Jadi aku harus gimana? Dia sampai menangis.
Yu Dan menatap bekas pijakan itu dengan wajah serba salah.
Dari bentuk gelap itu, ia merasakan sesuatu yang sangat tidak baik. Rasanya mirip saat menatap air yang gelap dan dalam, dan kamu tahu ada sesuatu yang mengintai di bawahnya, tapi kamu tak tahu itu apa. Ini yang disebut “berbahaya”.
Jadi seharusnya dia mundur sekarang. Itu yang benar.
Tapi….
Ada satu hal yang tidak sepenuhnya benar dari ucapan Mia.
Orang ini tidak akan mengutuk atau membencinya kalau ia tidak menolong. Siswi ini bahkan seperti tidak punya tenaga untuk memegang siapa pun lagi. Kalau Yu Dan berbalik badan dan pergi, dia mungkin hanya akan jatuh dan menangis tanpa sanggup mengejar.
Dan justru karena itu, Yu Dan tidak bisa pergi.
Yu Dan menghela napas.
“Akan kutanyakan.”
Sinar matahari sore telah berwarna emas.
Di ruang kerja yang selalu sejuk itu—dengan rak buku kayu tua memenuhi keempat dinding—aroma tinta giling yang pekat menyebar.
Siluman Rubah sedang menulis.
Sambil menunggu karena tidak ada yang bisa dilakukan, Yu Dan menatap huruf-huruf rapi yang bertambah satu demi satu di atas kertas putih. Si kembar yang sedang melayani—menuang air ke wadah sembari menggiling tinta—melirik ke arah Yu Dan.
“Sudah kuduga, hati Tuan muda sebenarnya baik. Bertemu siswi yang sedang kesusahan, dia khawatir dan langsung berlari kemari.”
“Apa?” Yu Dan salah tingkah. “Bukan! Aku cuma bertemu saat mau pulang, lalu sekalian mampir karena ini dekat. Jadi aku cuma mau bertanya saja, soalnya dia menempeliku terus, memaksa minta tolong.”
“Begitu. Chaewoo, jangan mengatakan ‘baik’, itu penghinaan bagi dia.”
“Ah, ya, Tuan muda. Saya salah bicara…. Pokoknya harus cepat dibereskan. Tunggu sebentar ya. Untuk nyonya itu cukup saya tuliskan satu lembar jimat.”
Yu Dan kembali melirik ke sudut ruangan.
Sebenarnya dari tadi ada seseorang yang duduk membelakangi mereka, dan itu sangat mengganggunya.
Seorang “nyonya” berambut panjang terurai, memakai hanbok warna merah muda lembut yang rapi. Kalau Yu Dan tidak salah dengar, dia datang dari kolam di taman rawa-rawa.
“Katanya di air kolam sering terlihat bayangan aneh yang bergerak-gerak, itu jadi merepotkan. Padahal sebentar lagi bayi-bayi akan lahir lagi, tidak mungkin membiarkan makhluk jahat mengincar terus.”
“Iya. Iya. Demi jimat yang manjur, mulai sekarang kamu harus diam.” Chaeseol berkata dengan penuh tekanan.
Saat itu terdengar suara ujung kuas diletakkan.
Dak.
Semua orang tersentak.
.............................
